Rumahsakit
Seni Musik

Masa Bahagia Rumahsakit

Band veteran indie-pop asal Jakarta, Rumahsakit, pada akhirnya membebaskan album baru berjudul About Time yang bernuansa ceria. Album kelima band yang berdiri sejak 1994 ini menggambarkan pentingnya momen ini dalam perjalanan musik mereka di saat mereka bermain bersama di slot kamboja.

”Album About Time adalah ungkapan kebahagiaan kita karena pada akhirnya kita sanggup merilis album yang udah kita janjikan sejak lama kepada pendengar,” kata Muhammad Arief Bakrie, vokalis band. Momen kebahagiaan terwakili dalam pemilihan judul album, yang dirilis terhadap Jumat (15/9/2023).

Arief melanjutkan, album ini jadi wadah bagi Rumahsakit merangkum pengalaman dan momen yang mereka alami sepanjang rentang kariernya. Lirik-liriknya, meski tak spesifik merujuk terhadap momen tertentu, menggambarkan kisah-kisah mengenai manusia dengan segala kegembiraan, kepedihan, atau rasa apa pun yang sanggup dipetik dari tiap-tiap momen.

Kebahagiaan yang dimaksud Arief tergambar gamblang dalam lagu pembuka ”Kabar Bahagia”. Lirik di bagian chorus-nya berbunyi, ”Kau berkunjung membawa tak sekadar bunga-bunga saja/Kau kabar bahagia/Dan kau tiba di dunia, sirna semua duka dengan sederhana/kau kabar bahagia”.

Lirik itu merasa seperti euforia kehadiran sesuatu. Kebahagiaan meluap-luap saat yang dikehendaki tiba. Sesuatu itu sanggup berupa kekasih, anak, album baru, atau mungkin iPhone 15. Yang jelas, euforianya merasa betul.

Pada lagu berikutnya, ”Normal”, euforia itu seperti dipatahkan. ”Teringat selagi semua biasa saja/Tiada Istimewa/Dunia cukuplah begitu saja”. Ini seperti pandangan tanpa pretensius dan dirasa lebih cocok untuk band yang rambut para personelnya merasa memutih ini.

Tema romansa menguat di lagu keempat dan kelima berjudul ”Hingga Selamanya?” dan ”Berdua Menua”. Bagian chorus lagu ”Hingga Selamanya?” merasa picisan. Begini bunyinya, ”Mungkinkah semua rasa/kembali nyata/’Kan kusimpan semua/Hingga selamanya”. Sebagai band veteran, selayaknya diksi mereka lebih berwarna. Rima tak wajib dipaksakan.

Lagu-lagu seterusnya berputar biasa-biasa saja. Kenikmatan baru tersentak di nomer terakhir, ”Metro”, yang di mulai dengan pukulan drum dan tempo menengah. Liriknya pun ditulis dengan lebih baik, setaralah dengan nomer ”Normal”. Larik ”Ya, kita adalah/Penerus jalanmu/Terasing namun tetap jalani” menggambarkan optimisme secukupnya.

Secara musikal, pecinta lama mereka mungkin sanggup menerima nomer ”Kabar Bahagia” yang kental petikan gitar gaya jangly. Nomor ”Metro” dengan pukulan drum bertalu-talu juga menyenangkan. Produksi suara yang jernih sanggup jadi menggaet pendengar baru.

Band Rumahsakit yang dikenal banyak orang sebaya mereka adalah band pop dengan lirik yang tak benar-benar terang; tersedia sedikit nuansa pesimisme. Lagu ”Hilang” dari album pertama keluaran 1998, misalnya, punya lirik sedemikian, ”Ku tahu hari-hari berakhir/Ku tak sanggup jauhi lagi/jangan biarkan saya jangan hilang”. Dari album itu masih tersedia ”Dewi Mimpi” yang manis namun musiknya condong minor.

Lagu terbesar mereka, ”Kuning”, dari album kedua Nol Derajat (2001) lain lagi. Liriknya romantis, diksinya puitik, seperti, ”Ceritakan padaku/Indahnya keluh kesahmu/sebelum angin senja membasuh/jauh”. Beginilah Rumahsakit di era lalu, meski memproduksi suaranya tak sebening sekarang.

Pilih saja mau mendengar Rumahsakit yang mana. Toh, katalog lengkapnya udah tersedia di pelantar musik digital. Sementara album About Time, kata mereka, didedikasikan untuk pecinta yang udah menunjang sejauh ini. Rumahsakit hari ini diisi oleh Muhammad Arief Bakrie terhadap vokal, Marky Najoan (gitar), Mickey Najoan (kibor), Fadli Wardhana (drum), dan Shendy Adam (bas).

Anda mungkin juga suka...